BISAKAH BLOKIR SITUS PORNO???

Rapuhnya Kebijakan Blokir Situs Porno
Oleh : Reza Ervani *)
reza@rumahilmuindonesia.net

Bismilahirrahmanirrahiim

Klaim :
Tulisan ini tidak dibuat untuk mengkonfrontir kebijakan tertentu. Hanya
untuk keperluan pembelajaran dan pendidikan, khususnya bagi para
pendidik dan penanggung jawab TIK di sekolah.

****

Blokir situs porno ?
Apakah secara teknis hal itu bisa dilakukan ?
Jawabnya : Bisa

Apakah bisa dilakukan secara total ?
Dengan berat hati kita harus menjawab : Tidak Bisa

ByPassProxy
Kini, jika anda mengakses sebuah situs “terlarang”, maka sebuah pesan
bahwa situs bersangkutan tidak bisa diakses akan muncul.

Tapi dengan sedikit upaya mencari informasi di google, anda akan dapat
kembali mengakses situs bersangkutan dengan menggunakan fasilitas yang
disebut ByPassProxy.

Ilustrasi sederhananya seperti ini, jika anda menggunakan identitas
komputer anda untuk mengakses sebuah situs terlarang maka hal itu
menjadi sulit karena identitas komputer anda harus melewati sebuah
tembok penghalang. Jadi anda akan meminjam identitas komputer lain untuk
mengakses situs bersangkutan, biasanya berada di negara lain. Hanya
dengan memasukkan alamat situs terlarang tadi di website tersebut …
maka wuzzz … situs terlarang anda itupun terbuka dengan sangat
bebasnya.

Hmm, kalau begitu kita masukkan saja situs ByPassProxy itu ke dalam
situs terlarang. Tidak semudah itu. Harga sewa sebuah server di luar
negeri jauuuh lebih murah daripada server di dalam negeri. Dengan
sedikit dana saya bisa mendapatkan sebuah sewaan server yang saya bisa
install perangkat lunak bypass proxy untuk kepentingan saya sendiri.

Situs Koleksi Unggahan
Sebut saja yang terkenal misalnya : rapidshare, easydownload, ziddu dan
semacamnya.

Penulis memperhatikan, bahwa sebagian besar file gratisan di internet
ditempatkan di situs koleksi unggahan gratis ini. Termasuk file-file
film dan gambar-gambar porno. Masalahnya kemudian muncul, karena tidak
semua file yang ditempatkan di situs gratisan ini adalah file terlarang,
perangkat lunak bebas, buku-buku bebas, hingga koleksi foto pribadi pun
seringkali ditempatkan orang disini. Memblokir situs seperti rapidshare
dkk justru akan menjadi sangat kontra produktif

Inilah salah satu alasan mengapa mengunggah file ke sebuah situs
gratisan milik asing sesungguhnya bukanlah kebiasaan bagus.

Mudah-mudahan kita segera memiliki sebuah situs gratisan lokal tempat
para guru dan pendidikan mengumpulkan file-filenya.

Blog, Mailing List dan Facebook
Walaupun blog, mailing list dan facebook memiliki fasilitas untuk
melaporkan penyalahgunaannya, tapi keputusannya ada di komunitas
penggunanya.

Contoh sederhananya seperti ini :
Seorang produser pornografi membuat sebuah blog porno. Untuk mencegahnya
diblokir, ia kemudian membuat blog itu menjadi eksklusif, membutuhkan
bayaran sekian dolar baru bisa diakses.

Atau bisa saja dia membuat sebuah mailing list di yahoogroups dan
tertutup hanya untuk pelanggannya.

Apakah hal itu harus dihadapi dengan memblokir yahoo, blogspot,
wordpress dan facebook ?

Email
Layanan email adalah yang paling banyak digunakan oleh pengguna
internet. Ironinya, Indonesia dengan hampir 140 juta pengguna gadget
(dengan 80 % menggunakannya untuk transaksi data) belum memiliki
provider besar sekelas yahoo dan gmail.

Bagaimana mengontrol transaksi data yang dilakukan via email ?

Jawabnya menjadi sangat tidak sederhana. Yang paling ekstrim tentu
memaksa Google dan Yahoo menjalankan servernya di Indonesia.😀

***

Empat studi kasus itu saja sudah cukup menunjukkan bahwa betapa
kebijakan sensor internet di tingkat provider adalah hal yang rapuh.
Provider tentu berorientasi bisnis, dan mereka tidak mau rugi dengan
berkurangnya pengguna. (Intermezzo : Wikileaks sempat memaparkan bahwa
Bank of America memborong banyak alamat URL situs porno, apalagi kalau
bukan untuk dibisniskan)

Satu hal yang juga harus kita sadari bahwa sama seperti judi, pornografi
juga telah berkembang menjadi sebuah industri. Menghadapi industri yang
berorientasi uang bukanlah hal yang mudah. Dan karenanya proteksi moral
bangsa harus dilakukan secara menyeluruh, tidak cukup hanya sekedar
mengeluarkan kebijakan blokir. Pengembangan konten lokal harus
ditumbuhkan, developer lokal diberikan kesempatan tumbuh. Monopoli satu
provider telekomunikasi mestilah dihentikan, agar masyarakat bisa
memiliki opsi.

Penulis masih memiliki keyakinan bahwa di negeri ini kita bisa buat
situs sekelas Google, Yahoo, Facebook dan Twitter jika ruang untuk
bernafas itu ada. Jangan biarkan yang sedang tumbuh mati terinjak oleh
pemain besar, sementara pemerintah hanya bisa menonton.

Penulis juga yakin, kita masih punya kesempatan untuk punya industri
perangkat keras telekomunikasi yang bagus. Di pintu pertama, sekali
lagi, pemerintahlah yang harus menjaga kesempatan itu agar tetap ada.
Jika sekelas PT. INTI saja mengalami kegagalan dalam upayanya menjadi
pemain di industri telekomunikasi, dan hanya menjadi reseller
produk-produk asing, apatah lagi industri kecil dan menengah.

Tanpa itu, kebijakan blokir situs hanyalah menjadi sebuah kebijakan yang
rapuh.