Bedanya Mereka yang Kaya Karena Berusaha dan Mereka di kelas Menengah Selamanya

Enam puluh persen dari 400 orang terkaya di Amerika (http://en.wikipedia.org/wiki/Affluence_in_the_United_States) memang sudah terlahir kaya. Artinya, mereka menjadi kaya karena warisan keluarganya. Namun jangan lupa, ada empat puluh persennya yang berusaha dari bawah untuk “naik kelas”. Ada empat puluh persennya yang harus jatuh bangun mengembangkan kekayaan yang tak diwarisi mereka dari orangtua. Apa saja yang bisa kita pelajari dari orang­orang yang memulai usahanya dari bawah ini? Bagaimana mereka mendidik diri untuk lepas dari kenyamanan kelas menengah yang telah membesarkan mereka dan orang tua mereka? Jika ditanya, bagaimana mereka akan membagi ilmu kepadamu? Inilah kesempatanmu mendengarkan pesan mereka. Apalagi, kansmu untuk berwirausaha di Indonesia begitu terbuka. Ikuti jejak mereka yang, layaknya kamu, memulai usahanya dari titik nol — mengeruk keuntungan dengan bekal ketahanan dan ide brilian di balik keraguan orang­orang sekitar. 1. MEREKA YANG KAYA AKAN BERANI SUSAH. KEMAPANAN DAN KENYAMANAN HANYA MENARIK KAUM KELAS MENENGAH Kebanyakan dari kaum kelas menengah (baca: kita) menginginkan kehidupan yang senang dan nyaman. Mencapai kenyamanan secara fisik, psikis dan emosional adalah tujuan utama kaum kelas menengah. Apa­apa cukup dan dicukupkan. Serta sedikit uang lebih untuk liburan dan gadget mahal. Berlawanan dengan mitos bahwa orang kaya tidak bisa hidup susah, mereka yang berusaha dari bawah justru sudah sangat tahu rasanya diinjak­injak. Hanya dengan itu mereka bisa makmur seperti sekarang. Justru ketika kaum kelas menengah akan mengutamakan kepastian masa depan dan kenyamanan kualitas hidup, orang yang kaya karena berusaha akan sebisa mungkin menghindari jebakan dari rasa nyaman. Penghasilan tetap dan kebutuhan hidup utama yang terpenuhi memang menggiurkan, namun ia tak akan puas hanya meraih itu saja. 2. KELAS MENENGAH AKAN FOKUS MENGISI TABUNGAN, SEMENTARA MEREKA YANG KAYA KARENA BERUSAHA AKAN MEMBUAT TABUNGANNYA MENGHASILKAN UANG Dari kecil kita sudah diajarkan buat menyisihkan uang buat ditabung. Tapi pada akhirnya kita merasa gak punya uang yang meski rajin menabung. Ini diakibatkan oleh kebiasaan kita hanya buat menabung tanpa berusaha menaikkan jumlah pemasukan tiap tahunnya. Jika rata­ rata tiap orang Indonesia menghasilkan Rp. 32 juta per tahun (pendapatan per kapita 2013, BPS (http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=11&notab=76)) dan menabung 10%­nya, maka kamu cuma mendapat 3,2 juta pada penghujung tahun. Dengan inflasi yang terus meningkat dalam setahun, apakah sebanding? Menabung memang harus, tapi jika mendiamkan tabungan tanpa memutarnya kamu tak akan pernah menjadi kaya. Orang kaya juga menabung, kok. Iya emang benar. Tapi selain menabung, mereka juga berusaha membuat tabungan itu meningkatkan pendapatannya dari waktu ke waktu. Mereka gak akan puas dengan satu sumber pemasukan. Mereka fokus untuk menambah income sehingga bisa menabung lebih banyak. 3. MEMANG NYAMAN BERNOSTALGIA SOAL MUDAHNYA HIDUP DI TAHUN 90­AN, TAPI ORANG KAYA JUGA AKAN BERPIKIR JAUH UNTUK MASA DEPAN Kebanyakan kamu kelas menengah hari ini tumbuh besar di era 90­an sebelum krisis melanda, di mana hidup begitu nyaman, barang­barang murah, bisnis lancar, BBM mudah di dapat bahkan musik 90­an pun terasa lebih nikmat. Kalau pun kamu gak pernah mencicipi hidup di tahun 90­an, setidaknya kamu pernah mendengar ceritanya. Cerita ini terus menerus diturunkan pada generasi muda tanpa menyadari betapa bahaya terbuai dalam masa lalu. Orang yang percaya kemarin lebih cerah daripada hari ini bakal kesulitan buat sukses, kebanyakan malah depresi. Sedangkan orang kaya berorientasi pada masa depan, mereka selalu optimis bahwa keadaan hari esok lebih cerah daripada hari ini. Mereka menghargai masa lalu dengan mengambil pelajaran hingga bisa diaplikasikan sekarang sebagai bekal di masa depan. Self­made millionaire jadi kaya karena mereka berani mempertaruhkan mimpi dan targetnya di masa depan, bukan di masa lalu. 4. MEMANDANG BERWIRAUSAHA SEBAGAI LANGKAH PENUH RISIKO ADALAH WAJAR. NAMUN CALON ORANG KAYA TAK AKAN MENGANGGAP RISIKO PERLU DITAKUTKAN. Karena memulai bisnis gak mudah dan menyeramkan, kita sering mundur sebelum terjun ke dunia usaha. Jadi pengusaha adalah langkah yang beresiko, sehingga kelas menengah memilih untuk bekerja untuk orang lain. “Yang penting nyaman” begitulah yang  kita ucapkan. Itu akibat dari cara berpikir kita yang terlalu linear. “Kalau aku dibayar sekian rupiah untuk bekerja per hari, maka harus menambah jumlah hari biar gajinya nambah.” Kaum kelas menengah yang terpelajar pun berpikir dia harus ambil S­2 supaya bisa menambah pendapatan, padahal belum tentu sama sekali (http://www.hipwee.com/sukses/ingin­kaya­jangan­ambil­gelar­master­ini­alasannya/). Saat kaum kelas menengah bimbang dan ragu untuk buka usaha atau nggak, orang kaya mencari ide untuk memecahkan masalah yang dihadapi kelas menengah dan mereka memperoleh keuntungan dari sana. Alih­alih pusing mikirin resiko, orang kaya malah menghitung dan mengobservasi risiko yang dia hadapi agar yakin bahwa risiko tersebut adalah jalan untuk sukses. 5. KELAS MENENGAH MELIHAT ORANG KAYA DAN CALON ORANG KAYA SEBAGAI KELOMPOK ORANG SOMBONG. PADAHAL, APA YANG SOMBONG DARI AMBISI UNTUK BERUSAHA? … Lanjutkan membaca Bedanya Mereka yang Kaya Karena Berusaha dan Mereka di kelas Menengah Selamanya

Regulasi Perlindungan Data Pribadi

Keamanan informasi data sangatlah penting terlebih dengan keterbukaan informasi akhir akhir belakangan ini masalah data sangatlah vital. Untuk itu diperlukan suatu aturan standar untuk perlindungan data secara baik dan benar. Untuk mempelajari lebih lanjut dapat membuka link dibawah ini. netizen-indonesia-kini-juli-september-2016-160812065234   Salam IT Sehat, Abdul Kadir Syam